Sebelumnya pada aritike part 1 dan part 2 kita sudah membahas panjang lebar tentang bagaimana melakukan screening saham dan menghitung harga wajar saham dalam metode value investing.

Jika kalian belum membacanya bisa klik link di bawah ini, karena ini adalah artikel lanjutan dari 2 artikel sebelumnya :

LINK : Part 1

LINK : Part 2

Money Management Dalam Investasi Saham

Money management adalah bagimana kita mengatur alokasi modal kita dalam melakukan investasi saham. Ini penting, karena market tidak bisa ditebak.

Sehebat apapun analisa kita, pasti ada ada saatnya market melawan posisi kita dengan sadisnya. Dan dalam kondisi seperti itu hanya money management yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran.

Anggaplah anda punya modal 50 juta. Apakah anda akan mengalokasikan dana tersebut hanya untuk membeli 1 saham ?

Ada banyak metode yang bisa dilakukan dalam investasi saham, tapi kita tidak akan membahas itu semua.Di sini saya akan share metode yang saya gunakan dan menurut saya works.

Kalau kalian tidak cocok dengan metode ini, masih banyak kok metode lain yang bisa kalian pelajari.

Diversifikasi Dalam Investasi

Sebelum masuk ke diversifikasi dalam saham, saya ingin membahas dulu diversifikasi dalam investasi. Banyak instrumen investasi selain saham yang kita tahu.

Ada obligasi,reksadana, properti, emas, dan lain-lain. Ada banyak pro kontra di dalamnya, karena Warrent Buffet sendiri tidak pernah membeli instrumen investasi lain selain saham perusahaan. 

Tapi Ben Graham dalam bukunya menyebutkan bagi investor “pasif”. Kata “pasif” di sini mendefinisikan orang yang tidak mengeluarkan seluruh energinya untuk menganalisa saham secara detail.

Kata itu lebih kepada orang yang mungkin sudah ahli, sudah mengerti tentang dunia investasi, tahu resikonya, hanya saja dia tidak ingin menghabiskan waktunya di situ. Dan lebih menginginkan profit biasa saja tapi konsisten.

Jadi kata “pasif” bukan mengindikasikan kemampuan seorang investor yang pemula. Kalian yang sudah ahli pun bisa menjadi investor “pasif”.

Saya sendiri, dalam membagi dana investasi hanya membaginya ke dalam 3 instrumen yaitu : Saham, obligasi, Properti, dan instrumen investasi high risk seperti crypto.

Benjamin graham guru warren buffet
Benjamin graham guru warren buffet

Saya pribadi tidak terlalu suka properti karena butuh perawatan dan tidak selikuid saham atau obligasi.

  1. Instrumen Investasi High Risk Tidak Boleh Lebih Dari 10% Total Aset

Jangan memasukkan uang terlalu banyak pada investasi dengan resiko yang tinggi jika tidak mau hidup anda hancur. 5% adalah angka yang ideal untuk pemula dan bisa ditingkatkan sedikit demi sedikit.Tapi tidak boleh lebih dari 10%. 

  1. Komposisi Saham dan Obligasi Paling Ideal Adalah 50-50%

Siapa sih yang mau menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop sambil mantengin harga saham atau sibuk membaca laporan keuangan saham setiap harinya ? Kalau anda mau silakan, kalau saya sih ogah…

Ben Graham selalu membuat saya takjub dengan teorinya dan membuat saya berpikir “Bener juga kata ni orang”. Ya, karena sebelumnya saya memang investor yang kolot, maunya hanya invest di saham, menganggap saham adalah instrumen terbaik.

Terus saya mikir, kalau saya tidak pernah mencoba investasi di instrumen lain bagaimana saya bisa yakin kalau saham adalah yang terbaik ? Masuk akal bukan ?

Di tambah karakter saya yang juga tidak mau ambil pusing, toh menurut pengalaman setelah pusing-pusing menganalisa saham naiknya ga gede-gede amat, bahkan di 5 tahun terakhir ini IHSG cenderung stag.

Ben Graham seakan berasal dari masa depan, memberikan solusi yang luar biasa. Dia bilang bagi investor pasif komposisi terbaik adalah 50% untuk saham dan 50% untuk obligasi.

Ini sudah saya terapkan dan hasilnya luar biasa memuaskan.

Ben Graham memberikan alternatif yang lebih hebat,bisa menggunakan komposisi 75% obligasi dan 25% Saham untuk investor yang lebih hati-hati. Atau 75% saham dan 25% obligasi untuk investor yang lebih “siap resiko”.

Tapi Ben Graham menyebutkan dalam bukunya komposisi 50% saham dan 50% obligasi adalah yang terbaik untuk investor “pasif”. Ketika harga saham sedang turun,obligasi cenderung naik.

Keuntungan dari obligasi bisa didistribusikan ke saham, hingga komposisinya tetap terjaga 50-50.

Teknik ini terbukti ampuh di 2020-2021 ini di mana IHSG sudah 5 tahunan bergerak sangat lesu. Saya masih bisa mendapatkan keuntungan 9-10% dari obligasi pertahun.

Dimana ketika ngobrol dengan sesama investor banyak yang mengalami loss, kenaikan 2% saja pertahun, bahkan stagnan selama 5 tahun.

So, pilihan ada di tangan anda menjadi full investor saham berarti anda harus siap dengan kemungkinan terburuk dan siap menghabiskan waktu dan tenaga lebih. Menjadi investor yang lebih pasif akan membuat anda lebih tenang dan punya banyak waktu untuk keluarga.

Diversifikasi Dalam Investasi Saham

Membahas tentang diversifikasi saham, saya tidak pernah membeli saham lebih dari 5. Itu adalah batas maksimal yang menurut saya menghindarkan kita dari kebingungan.

Dalam diversifikasi saham, saya biasanya membagi nya dalam beberapa sektor usaha, sebagian mengincar kapital gain, dan sebagian mengincar return deviden.

Tidak ada aturan pasti dalam membagi sektor mana saja. Yang jelas di part 1 dan part 2 kita sudah melakukan screening dan filter saham terbaik. 

Lalu untuk divesifikasi, kita bisa membeli beberapa saham terbaik dari sektor yang berbeda, yang hebat dalam pertumbuhan harga, maupun yang memberikan deviden rutin tiap tahunnya.

Semua terserah pada anda.

Money Management Ketika Portfolio Kita Merah

Dalam berinvestasi saham kita tidak akan selalu tepat dan mengharapkan harga akan langsung naik besoknya.

Adakalanya saham turun, dan tanpa planning yang benar, kita pun bingung apa yang harus di lakukan.

Dengan metode 50% saham dan 50% obligasi tadi saya sudah menyiapkan planning bagaimana jika portfolio saham saya mengalami kerugian :

  1. Saya akan selalu sisakan dana cash 20% untuk menutupi jika terjadi minimal kerugian 20% dari investasi saham.Sebelum kerugian mencapai 20% saya akan tahan emosi untuk tidak beli saham lagi.
  2. Ketika total portfolio saham anjlok minimal 10% lagi saya akan gunakan aset dari obligasi untuk menutupi kerugian saham, sehingga komposisi saham dan obligasi tetap 50% dan 50%
  3. Selanjutnya Ketika total porfolio saham kembali anjlok 10% lagi hal yang sama akan saya lakukan.
  4. Saham yang paling banyak turunnya adalah yang paling banyak di top up. Saya tidak pernah menjual saham rugi, minimal saya jual saham yang untung 30% itupun sangat jarang, biasanya minimal 50-100% bahkan lebih.Kecuali ada berita yang sangat negatif pada perusahaan itu, berarti nasib sedang buruk aja.

Itulah bagaimana saya mengatur portfolio saya cenderung pasif dan tidak mau ribet. Karena memang saya tidak mau menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengotak-atik porfolio saham. 

Ketika membeli sebuah perusahaan saya ingin membelinya dan membuat perusahaan itu bekerja untuk saya, dan bukan sebaliknya.

Warrent buffet investor saham terkaya di dunia
Warrent buffet investor saham terkaya di dunia

Target Take Profit Investasi Saham

Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, bahwa untuk saham target profit minimal saya adalah 30%, 50%, bahkan 100%. Sebelum mencapai itu saya tidak akan menjualnya.

Pada saat harga saham naik tinggi, itulah saatnya kita berhati-hati, mulai kita alokasikan profit kita ke obligasi. Sehingga ketika saham kembali turun nantinya, keuntungan dari obligasi bisa kita gunakan untuk memborong saham lagi.

Dalam bisnis skala besar keuntungan 30% per tahun adalah suatu prestasi yang luar biasa. Dan lagi, mindset seorang pemula selalu mau keuntungan ratusan persen per tahun, padahal mereka ga pernah coba bisa tidak profit 30% per tahun dulu ?

Kalau sudah bisa, baru dilanjutkan ke 100% pertahun ? Tapi, begitulah rata-rata investor pemula adalah orang yang tidak sabaran, itulah kenapa market selalu bergerak didasarkan pada emosi dan psikologi pasar yang tidak rasional.

Kesimpulan

Inti dari metode value investing adalah membeli suatu saham di ketika harganya berada di bawah harga wajar yang kita taksir.

Lalu, sebagai seorang investor kita harus sadar bahwa tidak selalu analisa kita mengalami keuntungan, bisa saja market melawan kita.

Oleh karena itu, penting untuk menerapkan money management sejak awal. Yaitu harus ditetapkan aturan baku terlebih dahulu sebelum melakukan investasi saham.

Terakhir, kita harus memahami seperti apa karakter kita. Apakah kita cenderung sebagai investor pasif ataukan investor aktif.

Pahami betul-betul renungkan, bahwa menjadi investor aktif membutuhkan dedikasi, kerja keras , dan passion yang tinggi dalam meneliti, menganalisa, dan membuat keputusan dalam investasi.

Investor bukanlah profesi untuk coba-coba, bukan judi atau tebak-tebakkan, bukan pekerjaan sampingan. 

Money Management dalam trading

Jika anda tidak kuat menjadi investor aktif, akui saja, relakan itu, dan lebih bersyukur. Jadi investor pasif bagi saya lebih menyenangkan, lebih bahagia, dan punya kualitas waktu yang luar biasa baik.

Nyatanya mereka yang memaksakan diri menjadi investor aktif bahkan malah menjadi trader adalah mereka yang paling banyak rugi,paling menyedihkan, dan banyak curhat tentang kegalan mereka dalam dunia saham.

So, pilihan ada di tangan anda.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *