Sebelumnya kita sudah membahas tentang cara melakukan screening saham. Kriteria-kriteria apa saja yang menjadi standard kita dalam memilih sebuah saham.

Bisa anda baca part 1 nya di sini :

Link : Part 1

Sekarang, setelah melakukan screening saham langkah selanjutnya adalah menentukan nilai instrinsik suatu saham.

Inti metode value investing adalah mencari saham yang harga sahamnya di bawah nilai intrinsik dari saham tersebut. Dengan arti lain kita mencari saham yang salah harga atau murah.

Metode Menghitung Harga Wajar

Seiring perkembangan jaman di era abad ke 21 ini, metode perhitungan harga wajar saham (nilai intrinsik) memiliki banyak versi. Mulai dari yang paling rumit sampai yang paling sederhana.

Teknik-teknik yang sedikit rumit seperti discouted cashflow atau EVA, mungkin akan saya jelaskan dalam artike lain.

Di sini saya akan membahas teknik yang paling sederhana yaitu perhitungan dari investor paling terkenal dan gurunya. Siapa lagi kalau bukan Warrent Buffet dan Benjamin Graham

Perhitungan sederhana seperti ini pun untuk pemula, saya yakin sudah cukup bikin mumet, hehehe…

Menghitung Harga Wajar Saham Versi Benjamin Graham

Dalam bukunya yang sangat terkenal “The Security Analysis” Benjamin Graham menciptakan sebuah metode perhitungan harga wajar saham. Berikut adalah metide yang beliau ciptakan tahun 1962 ini :

V(Harga wajar) = EPS x (8,5 + 2G)

Dimana :

V adalah harga wajar saham

EPS adalah Earning Per Share. Bisa dilihat di laporan keuangan.

8,5 adalah PER rata-rata perusahaan yang tidak tumbuh labanya. 

G adalah EPS growth saham tersebut dari 10 tahun terakhir

Namun, jika kita mempraktekkan rumus di atas, maka kemungkinan bahwa saham tersebut berada di bawah harga wajar sangat tinggi. 

Jadi bisa disimpulkan, teknik tersebut cukup agresif, dan sangat berbahaya jika pemula menirunya secara membabi buta.

Benjamin Graham pun mengevaluasi rumus tersebut dan menciptakan rumus yang lebih aman. Berikut rumusnya :

V(Harga Wajar) = EPS x (8,5 + 2G) x ( 4,4/AAA)

Dimana :

V adalah harga wajar saham

EPS adalah Earning Per Share. Bisa dilihat di laporan keuangan.

8,5 adalah PER rata-rata perusahaan yang tidak tumbuh labanya.

G adalah EPS growth saham tersebut dari 10 tahun terakhir

Disini, ada 2 variabel tambahan yaitu :

4,4 adalah rata-rata return deposito di Amerika. Jika kita di Indonesia gunakan rata-rata return deposito di Indonesia 2021 : 4 %

AAA adalah rata-rata bunga obligasi jangka panjang. Di Indonesia sekitar : 7,5%

Pada rumus di atas, Ben Graham menambahkan 2 variable tambahan yaitu bunga deposito dan obligasi.

Ini bertujuan untuk membatasi screening saham kita hanya kepada perusahaan denga profit dan pertumbuhan yang baik.

Dan tentu saja, menambahkan keamanan bagi yang menggunakan rumus tersebut.

Menghitung Harga Wajar Saham Versi Warrent Buffet

Banyak orang bertanya setelah menggunakan rumus Ben Graham di atas, 

Kenapa saham-saham perusahaan besar seperti Unilever,BCA,BRI,BNI,dll tidak masuk dalam daftar ?

Tentu saja karena rumus di atas memasukkan variabel EPS (Earning Per Share) yang berhubungan erat dengan PER (Price Earning Ratio). 

Dimana, saham-saham besar tersebut tidak memiliki PER yang rendah dikarenakan EPS mereka yang tidak terlalu tinggi.

Dalam metode Ben Graham, beliau menjadikan variable EPS menjadi penentu utama suatu saham dikatakan murah atau tidak.

Warrent Buffet sendiri punya pandangan lain. Walaupun Ben Graham adalah gurunya yang sangat dihormati.

Warrent Buffet pernah berkata bahwa, dahulu dia mengikuti gurunya untuk membeli perusahaan kecil dengan harga sangat murah, bahkan jauh di bawah harga wajarnya.

“Itu seperti mengambil puntung rokok orang di jalan” Kata Warrent Buffet

Itu sama saja mengambil apa yang orang lain kira sampah, padahal sebenarnya masih berharga.

Sekarang kita tahu Warrent Buffet memiliki pandangan yang sedikit berbeda :

“Saya lebih suka membeli perusahaan bagus dengan harga wajar, daripada perusahan wajar di harga yang bagus”

Sehingga muncullah metode perhitungan ala Warrent Buffet berikut ini :

Step 1 – Menghitung Initial Rate Return

Initial rate return adalah untuk mengetahui berapa persen profit saham jika dibandingkan dengan harganya. 

Tujuan menghitungnya adalah untuk memfilter saham-saham dengan profit yang nilainya lebih tinggi dari BI rate. BI rate untuk 2021 adalah 3,5%.

Jangan lanjut ke step 2 , jika hasil yang didapatkan kurang dari 3.5%

Rumus menghitung Initial Rate Return :

Initial Rate Return = EPS / Harga saham

Buku karya Ben Graham
Buku karya Ben Graham

Step 2 – Hitung Rata-rata ROE After Payout Data 5 Tahun Terakhir

Ikuti rumus berikut ini untuk menghitungnya :

Average ROE after payout = ROE rata-rata 5 tahun terakhir x (1 – rata-rata Dividend Payout Ratio 5 tahun terakhir)

Anda bisa menggunakan excel untuk menghitung rata-rata dari data 5 tahun terakhir.

Setidaknya ada 2 variabel yang harus anda ketahui sebelum menggunakan rumus tersebut, yaitu :

ROE (Return On Investment)

DPR (Dividen Payout Ratio)

Kita bisa mendapatkan data-data tersebut langsung di laporan keuangan perusahaan tersebut. Seperti yang sudah saya jelaskan kita bisa lihat aplikasi stockbit atau investing.com.

Untuk penjelasan tentang apa itu ROE dan DPR bisa kalian cari saja di google dan tidak akan saya jelaskan di sini karena terlalu panjang.

Step 3 – Hitung Proyeksi EPS Untuk 5 Tahun Ke Depan

Kita bisa menggunakan rumus di bawah ini :

Proyeksi Equity per Share = PV*((1+i)^n)

Dimana :

PV adalah EPS (Equity per Share)

i adalah Average ROE after payout (Yang kita hitung di langkah ke 2)

n adalah tahun yang akan kita proyeksikan (5 tahun)

^ adalah tanda pangkat

Step 4 – Mencari Future EPS

Untuk menghitung future EPS kita masih akan menggunakan data Proyeksi EPS 5 tahun yang kita hitung pada step 3 sebelumnya.

Rumus menghitung future EPS adalah sebagai berikut :

Future EPS = Proyeksi EPS 5 tahun x average ROE after payout

Dimana :

Proyeksi EPS 5 tahun : sudah kita hitung pada step 3

Average ROE after payout : sudah kita hitung pada step 2

Step 5 – Hitung Future Stock Price

Gunakan rumus berikut untuk menghitung future stock price :

Future Stock Price = Future EPS * Rata-rata PER 5 tahun

*Catatan : jika PER saat ini lebih rendah dari rata-rata PER 5 tahun, gunakan nilai PER saat ini.

Dimana :

Future EPS : sudah kita hitung pada step 4

Rata-rata PER 5 tahun : Jumlah PER 5 tahun terakhir dibagi 5

Step 6 – Hitung Future Stock Price + Dividend

Untuk mencari perhitungan tersebut kita perlu mencari total devidend yang didapatkan dari total 5 tahun ke belakang.

Rumus mengitung total devidend 5 tahun ke belakang :

Total Devidend = Total EPS 5 tahun * Average DPR 5 tahun

Dimana :

Total EPS 5 tahun adalah data EPS 5 tahun terakhir yang kita jumlahkan

Average DPR 5 tahun adalah rata-rata DPR 5 tahun terakhir (Sudah dihitung di step 2)

Setelah mendapatkan total deviden 5 tahun terakhir, tinggal menjumlahkannya dengan rumus :

Future Stock Price + Total Devidend 5 tahun

maka step ke-6 selesai lanjut ke step selanjutnya

Benjamin graham guru warren buffet
Benjamin graham guru warren buffet

Step 7 – Hitung Expected Rate Of Return 

Menurut Warrent Buffet berikut adalah kriteria melihat harga saham berdasarkan expected rate of return :

Expected rate return >15% (Sangat baik)

Expected rate raturn  <15% dan >=12% (Masuk standar)

Expected rate return  <12% (Jangan beli)

Sebelumnya kita sudah tahu berapa harga saham 5 tahun yang akan datang ditambah dengan deviden yang kita peroleh.

Sekarang, tinggal kita hitung berapa return rata-rata pertahun untuk saham yang kita beli 5 tahun ke depan :

Expected Rate Of Return :

=POWER((B2/A2);(1/5))-1

(Karena rumus nya cukup rumit dan menggunakan akar kalian bisa masukkan rumusnya dalam excel)

Dimana : 

B2 adalah kolom excel yang berisi Future Stock Price + Deviden (Yang sudah dihitung pada step 5)

A2 adalah kolom excel yang berisi Total Deviden 5 tahun (Yang sudah dihitung pada step 6)

Step 8 – Menghitung Harga Wajar Suatu Saham

Dari step 7 seharusnya kita sudah tahu apakah harga saham kita patut untuk dibeli atau tidak.

Jika expected rate returnnya masih di bawah 12% maka bisa dikatakan bahwa harga saham tersebut masih kemahalan.Lalu kapan saat yang benar harga saham dikatakan murah ?

Yaitu saat expected rate returnnya menembus angka 12%. 

Selalu Gunakan Margin Pengaman

Ben Graham dalam bukunya selalu mengatakan betapa pentingnya margin pengaman atau “Margin Of Safety”. Kita harus sadar bahwa market seringkali bersifat tidak rasional.

Meskipun kita sudah menghitung harga wajar dengan teliti kadang harga saham masih saja bisa anjlok hanya karena berita negatif.

Singkatnya, margin of safety adalah sebuah prinsip perhitungan yang digunakan para investor untuk membeli saham di bawah harga wajarnya.

Misalkan harga wajar saham kita hitung adalah 5000. Margin of safety yang disarankan adalah 25%. Maka kita akan membeli saham ketika berada di harga 3750.

Tujuan digunakannya margin of safety adalah untuk mengurangi resiko kesalahan karena harga kemahalan. Sekalipun kita sudah menaksirnya murah, namun bisa saja taksiran kita masih keliru.

Konsep margin of safety juga sering digunakan para pembeli mobil bekas untuk dijual lagi, mereka tidak akan membeli mobil di harga wajar, tetapi sedikit di bawah harga wajarnya.

Itu adalah suatu cara yang efektif untuk mengurangi resiko kerugian.

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Investasi Saham

Seperti kata Ben Graham dan juga diamini oleh muridnya Warrent Buffet, bahwa saat yang tepat untuk membeli saham adalah saat semua orang takut membeli saham.

Dan saat yang paling harus berhati-hati adalah saat semua orang serakah dalam membeli saham.

Itu adalah prinsip terpenting yang harus dipegang seorang investor, karena kita ingin membeli di harga semurah mungkin dan menjual di harga semahal mungkin.

Sementara harga bergerak karena psikologis pasar.

Jangan Terpaku Pada PER dan PBV

Selama ini kita tahu bahwa PER di bawah 10 dan PBV di bawah 1 adalah salah satu kriteria saham dikatakan murah.

Tapi setelah saya selami lebih dalam, ternyata kita tidak bisa hanya menggunakan patokan PER dan PBV tahun ini sebagai penentu harga saham yang murah.

Karena memang ada sektor usaha tertentu yang PER dan PBV nya selalu diatas 10 dan 1. Dan apakah kita tidak bisa membeli saham dari sektor tersebut ?

Jadi, kita juga harus melihat data histori dari PER dan PBV beberapa tahun lalu. Saya sendiri akan menganggap murah suatu saham yang nilai PER atau PBV nya turun lebih dari 30% dari rata-rata.

Dan mungkin akan membelinya jika turun 50% dari rata-rata.

meme tentang saham

Menunggu Insider Untuk Melakukan Pembelian

Insider bisa jadi adalah investor besar, direksi pemegang saham terbesar, aksi korporasi, atau aksi borong saham oleh asing.

Menjadi seorang nelayan paling enak adalah mengikuti arus terbesar, kita tidak perlu capek-capek melawan arus.

Begitu juga dalam investasi, akan lebih enak jika kita mengikuti insider yaitu investor-investor besar yang melakukan pembelian saham dalam jumlah yang masif.

Jadi terus memantau berita memang penting bagi seorang Investor.

Untuk step selanjutnya kita akan lanjut ke Part 3 :

Link : Part 3


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *