Dalam trading kemampuan trader dalam mengatur penempatan SL dan TP sangatlah krusial. Karena ini berhubungan dengan money management dan akurasi dari trading kita.
Kesalahan dalam penempatan SL dan TP akan berakibat pada loss atau kerugian.
Untuk mengatasi masalah tersebut kita akan menggunakan bantuan indikator ATR yang akan mebantu kita dalam 2 hal :
- Bagaiamana menggunakan ATR untuk penempatan SL
- Bagaimana mengguanakan ATR untuk penempatan TP
Penjelasan Tentang Indikator ATR
ATR (Average True Range) adalah sebuah indikator yang berfungsi untuk ‘mengukur’ nilai volatilitas suatu harga. ATR adalah indikator yang ditemukan oleh J.W. Wilder yang juga penemu indikator RSI dan Parabolic SAR.
ATR bukanlah indikator yang bisa memberikan sinyal buy atau sell. ATR hanya digunakan untuk mengetahui seberapa besar volatilitas harga saat itu,sehingga seringkali digunakan untuk menentukan SL dan TP. Berikut beberapa fungsi ATR :
- Jika ATR sedang berada di level tinggi, itu berarti sedang terjadi volatilias yang tinggi pada harga.
- Tinggi atau rendahnya level ATR tidak menggambarkan tren naik/turun.
- Ketika ATR sedang berada di level rendah, berarti sedang terjadi kondisi keseimbangan pada harga (sideways).
Perhitungan Di Balik ATR (Average True Range)
ATR sebenarnya hanyalah rata-rata dari ‘True Range’ dalam periode tertentu,defaultnya adalah 14. True Range atau ‘TR’ sendiri adalah cara yang ditemukan J.W. Wilder untuk mengukur jarak antara 2 candle.

Berikut adalah rumus menghitung ATR untuk periode 14 :
ATR = [ (ATR x 13 ) + Current TR] / 14
Dari perhitungan di atas maka akan terbentuk titik-titik hasil perhitungan kita tersebut. Titik-titik tersebut kemudian dihubungkan dalam sebuah garis eksponen yang nyaman untuk dilihat.
Jika dilihat dari rumus di atas sebenarnya ATR adalah perkembangan dari True Range (TR). Kita tidak bisa menghitung ATR tanpa mengetahui nilai TR lebih dulu. Pencipta ATR memasang default periode ATR adalah 14. Itu berarti jika kita menggunakan timeframe H1, rata-rata TR dihitung dari data 14 jam lalu.
Bagaimana Cara Menggunakan ATR
Bagaimana Mengkombinasikan ATR Dengan Indikator EMA
Pada kesempatan kali ini kita akan menggunakan kombinasi dari 2 indikator yaitu ATR dan MA. Mungkin banyak diantara kalian yang tidak tahu bahwa crossing dari kedua indikator ini bisa dijadikan signal entry.
Lah… darimana logikanya ?
Tenang, selama kita punya alasan yang kuat untuk strategi yang kita gunakan, suatu yang kelihatannya aneh pun boleh-boleh saja digunakan, selama profit.
Kita tahu bahwa semakin rendah nilai ATR mengindikasikan sedikitnya pergerakan pips, itu berarti harga sedang mengalami konsolidasi, dan bisa terjadi lonjakan harga sewaktu-waktu.
Sementara itu , semakin garis EMA naik mengindikasikan bahwa harga masih dalam kondisi uptren. Bisa disimpulkan bahwa :
Jika garis ATR memotong garis EMA dari bawah ke atas, itu adalah tanpa sinyal buy. Jika kebalikannya maka itu adalah sinyal sell.
Tapi tentu kita tidak langsung entry, melainkan kita tunggu konfirmasi dari candle. Dimana biasanya akan muncul candle marubozu sebagai konfirmasi yang valid.
Kalian harus menggabung indikator ATR dan EMA dalam 1 windows di MT4. Caranya bisa kalian lihat pada gambar berikut ini :

Step by Step Strategi Trading Dengan Indikator ATR + EMA (BUY Position)
Langkah #1 : Tunggu Ketika Indikator ATR Break EMA 20 Dari Bawah Ke Atas

Pertama adalah pastikan Chart Setup anda sama seperti yang tertampil di gambar. Yaitu Jendela pertama berisi Pair mata uang, jendela kedua di bawahnya berisi chart indikator dalam hal ini ATR & EMA.
Lalu selanjutnya untuk melakukan entry Buy, konfirmasi pertama yang harus kita tunggu adalah Indikator ATR harus break EMA 20 dari bawah ke atas.
Ini merupakan tanda bahwa volatilitas yang tinggi akan terjadi di depan. Dengan volatilitas yang tinggi ini merupakan peluang trading yang bagus karena harga akan bergerak cepat.
Indikator ATR yang membreak EMA 20 ke atas juga berarti akan terjadinya tren yang baru.
Langkah #2 : Pastikan Ketika ATR Break EMA, Pada Chart Harga Juga Terjadi Candle Breakout

Ketika garsi ATR menembus EMA 20 dari bawah ke atas, ini merupakan tanda perubahan tren dan akan terjadinya volatilitas tinggi. Tentu kita tidak bisa percaya begitu saja pada indikator berdasarkan crossover.
Kita akan lihat aksi harga (Price Action) ketika crossover tersebut terjadi. Yaitu kita hanya akan ambil posisi ketika terjadi candle breakout yang panjang ke atas atau biasa disebut candle Marubozu.
Dalam hal ini untuk posisi buy kita mencari candle Bullish Marubozu atau candle denga body yang panjang ke atas.
Langkah #3 : Ambil Posisi Buy Pada Closing Candle Breakout

Jika kedua konfirmasi kita tadi sudah semuanya terpenuhi yaitu ATR break EMA dari bawah ke atas. Dan kita menemukan candle Bullish Marubozu maka sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan entry Buy.
Saat yang paling tepat adalah ketika penutupan candle Marubozu. Saat terjadi closing candle saat itu juga kita melakukan entry BUY.
Langkah #4 : Pasang SL Sedikit Di Bawah Candle Breakout

Indikator ATR selain memiliki fungsi sebagai indikator untuk mengukur volatilitas harga juga memiliki fungsi untuk menentukan SL dan TP yang tepat.
Ada beberapa cara dalam strategi ini yang bisa kita gunakan untuk menentukan SL atau TP.
Pertama, kita bisa memasang SL sedikti di bawah candle breakout. Ini adalah penerapan dari trading Price Action, dimana biasanya ketika terjadi candle Marobozu maka biasanya akan diteruskan dan akan sulit berbalik arah.
Kedua, kita bisa memasang SL dengan melihat angka pada indikator ATR kita, itu melambangkan pergerakan rata-rata harga dalam satu candle. Kita bisa menggunakan nilai 1x ATR untuk shorterm trading atau 2x ATR untuk longterm trading.
Langkah #5 : Pasang TP Sesuai Dengan Pips Yang Ditunjukkan Indikator ATR
Sama dengan menentukan nilai SL, menentukan nilai TP kita juga bisa menggunakan indikator ATR. Yaitu kita bisa memasang TP dengan melihat angka pada indikator ATR. Kita bisa menggunakan nilai 1x ATR untuk shorterm trading atau 2x ATR untuk longterm trading.
Atau cara kedua, kita bisa menggunakan closing TP manual, yaitu dengan menunggu perpotongan garis antara ATR dan MA 20 .Saat garis ATR memotong EMA 20 dari atas ke bawah saat itu juga kita bisa melakukan closing order.
Kesimpulan
Strategi di atas adalah pengembangan dari fungsi indikator ATR yang awalnya mungkin hanya digunakan untuk mengetahui volatilitas dan menentukan SL/TP. Strategi tersebut mungkin tidak akan anda temui di tutorial manapun.
Karena memang jarang trader yang menggunakan ATR sebagai lawan crossover dari EMA. Tidak ada kata salah dan benar dalam menggunakan indikator. Yang salah adalah ketika kita menggunakan indikator tapi tidak tahu alasan dibalik menggunakan indikator itu.
Selama kita mengerti indikator tersebut dan tahu betul alasan dibalik mengapa kita menggunakan indikator tersebut, meskipun analisa kita 100% kebalikan dengan mayoritas trader pun tidak menjadi masalah.
Namun faktanya masih banyak trader yang tidak tahu alasan pasti sesaat setelah dia membukan open posisi. Atau alasan dia entry selalu labil karena biasanya ikut-ikut. Punya trading plan (Alasan untuk entry) adalah sesuatu yang sangat krusial.
Bahkan hal tersebut dijelaskan dalam buku “Market Wizard” sebagai salah satu faktor terpenting kesuksesan trader besar. Jadi mulailah sedikit fanatik pada trading plan kalian sendiri.
Kalaupun sering gagal kalian akan banyak tahu pola kegagalan seperti apa yang kalian alami,dan dengan mudah kalian bisa merubahnya menjadi pola kesuksesan.
Mengutip quotes dari seorang Anonim :
“First You Must Learn To Play By The Rules, Then You Must Forget The Rules And Play From Your Heart.”
1 Comment
Dari Nol Sampai Konsisten Profit: Perjalanan Menjadi Trader Sukses – Trianto Adi · January 30, 2025 at 1:45 pm
[…] Strategi ATR + MA […]