Sistem politik sebuah negara akan menentukan apakah negara itu makmur atau miskin. Kali ini saya akan memberikan ringkasan buku yang sangat bagus karya Daron Acemoglu dan James A robinson berjudul “Why Nation Fails ?”
Buku ini membahas sebuah pertanyaan besar kenapa sebuah negara bisa makmur sementara banyak negara lain yang masih berkutat di masalah kemiskinan. Apakah ini disebabkan oleh budaya, cuaca, atau lokasi wilayah ?
Ternyata bukan faktor itu penyebabnya. Karena ada negara yang memiliki wilayah dan lokasi yang hampir sama tetapi memiliki tingkat pertumbuhan yang jauh berbeda.
Botswana di masanya merupakan negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Sementara, negara lainnya yaitu Zimbabwe dan Kongo masih berada di bawah garis kemiskinan dan konflik kekerasan.

Daron dalam bukunya menjelaskan bahwa semua itu disebabkan oleh situasi politik dan institusi ekonomi yang dibuat oleh negara tersebut.
Contoh lain adalah korea yang budaya dan sukunya cenderung homogen, tetapi Korea utara merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Sementara, tetangga dekatnya Korea selatan merupakan salah satu negara terkaya di dunia.
Dalam risetnya selama 15 tahun Daron si penulis buku akan membantu menjelaskan kepada kita apa yang menyebabkan sistem suatu negara mengalami kegagalan ?
Ada beberapa hal penting yang perlu kita bahas dalam buku ini. Jika anda ingin membaca versi lengkapnya bisa langsung beli bukunya saja. Kalian tidak akan kecewa karena saya jamin isi buku tersebut lebih baik dari apa yang akan saya ulas ini.
Mitos Negara Makmur
Apa yang membuat suatu negara makmur ? Dalam benak kita pasti terbayang, mungkin letak geografisnya.

Ini adalah hipotesa yang populer bahkan seorang Filsuf terkenal bernama Montesquieu pada abad ke-18 berpendapat bahwa orang yang tinggal di lingkungan tropis dengan cuaca yang hangat cenderung lebih malas jika dibandingkan penduduk yang tinggal di daerah yang dingin.
Namun tentu saja hipotesa ini sudah sangat tidak relevan. Contohnya penduduk di kota Nogales, sebagian berada di wilayah Amerika Serikat dan sebagian lagi di wilayah Meksiko.
Penduduk kota Nogales yang masuk wilayah Amerika cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Mereka memiliki rata-rata gaji $30.000, menempuh jenjang perguruan tinggi, jalanan yang teraspal dengan baik, dan tingkat kesehatan yang baik.
Sementara penduduk kota Noogales yang masuk wilayah Meksiko di bagian selatan memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah. Rata-rata gaji mereka 3x lebih rendah, jarang yang menempuh perguruan tinggi, jalanan masih belum tertata dengan baik, dan tingkat harapan hidup yang rendah.
Hipotesa kedua penentu kemakmuran negara adalah budaya. Orang bila budaya yang baik akan menghasilkan negara yang makmur. Tapi apakah benar pendapat itu ?
Contoh nyata yang sebelumnya kita bahas yaitu Korea utara dan Korea selatan. Budaya kedua negara ini sangatlah mirip bahkan bisa dikatakan sama. Tapi yang menyebabkan keduanya berbeda adalah sistem negara yang dipilih.
Korea utara dengam sistem komunis, dan korea selatan dengan sistem kapitalis. Menurut Daren ini lah yang menyebabkan perbedaan kemakmuran suatu negara, yaitu sistem.
Perbedaan Inklusif dan Ekstrakrif
Daren dalam bukunya membagi negara makmur dan negara miskin menjadi 2 jalur arah politik dan ekonomi. Yaitu iklusif dan ekstraktif.
Tipe negara inklusif adalah dimana negara memberikan jaminan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.Sehingga orang di negara tersebut tahu bahwa mereka akan mendapatkan imbalan yang pantas kalau mereka bekerja keras dan mau berjuang untuk kesejahteraanya.
Sebagai contoh masyarakat memiliki hak kepemilikan , kemudahan dalam pendidikan, ijin usaha, pasar yang kompetitif , dan tidak adanya hak spesial kepada segelintir orang.
Kebalikannya tipe negara ekstraktif cenderung memberikan hak spesial kepada segelintir orang dan mengabaikan kepentingan orang banyak.

Contohnya adalah negara Kongo yang mengalami penurunan ekonomi ketika dipimpin oleh Joseph Nobutu pada tahun 1965-1997. Pada saat itu negara Kongo sedang dalam kondisi kemiskinan, namun Nobutu dan orang yang dekat dengannya adalah saudagar yang kaya raya.
Persaingan yang tidak sehat berarti sistem yang tidak baik, inilah yang menyebabkan kenapa suatu negara gagal untuk berkembang.
Bahkan saat itu Nobutu membangun istana pribadinya yang sangat luas lengkap dengan bandara dan jet pribadi. Bukan hanya itu, dia juga memiliki istana luas di Belgia.
Sistem Ekstraktif Bermula Dari Penjajahan
Awal mula budaya sistem ekstraktif adalah dari penjajahan. Namun mirisnya setelah negara terjajah merdeka, sistem ini bukannya dihentikan tapi malah dilanjutkan oleh diktaktor yang korup.
Sampai akhirnya terjadilah perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan hingga akhirnya bisa menjadi pemimpin diktaktor selanjutnya.
Ini adalah sebuah lingkaran setan dari sistem ekstraktif, namun bila sebuah negara mampu keluar dari lingkaran setan ini, maka otomatis negara itu akan memiliki sistem baru yaitu era reformasi dengan sistem inklusif sehingga menumbuhkan rasa kompetitif sehingga menciptakan persaingan yang lebih sehat.
Ada beberapa tanda bahwa suatu negara akan berubah menjadi sistem inklusif :
Tanda pertama adalah, bahwa suatu masyarakat sudah terlihat tidak tahan dengan kondisi yang terjadi di negara tersebut. Dimana persaingan yang sehat tidak bisa terjadi, dan peraturan hanya menguntungkan segelintir kelompok.
Dan terjadilah pemberontakkan sehingga menuntur terjadinya reformasi. Namun bisa saja karena sebuah kejadian yang tak terduga.
Contoh pada abad ke-14 di Eropa sedang terjadi pandemi “Black Death” atau wabah hitam. Di kabarkan pandemi ini telah merenggut nyawa hingga ⅔ populasi di Eropa.
Dan tentu saja ekonomi di Eropa mengalami penurunan tajam waktu itu. Pada masa itu sistem pemerintahan di Eropa menganut sistem feodal dan aliran ekstraktif. Tanah hanya dimiliki kaum bangsawan.
Dan terjadi ketimpangan ekonomi yang sangat tinggi kala itu. Namun ketika wabah hitam melanda sistem ini mulai berubah total karena terjadi kekosongan pekerja yang luar biasa.
Seperti hukum ekonomi, karena jumlah pekerja yang sedikit sementara permintaan yang besar. Pekerja jadi memiliki power yang lebih untuk memberikan tuntutan lebih berupada keringanan pajak dan upah yang dinaikkkan.
Sehingga pada saat itu sistem ekstraktif di Eropa mulai perlahan tergantikan dengan sistem Inkusif.Bukan karena pemberontakan tapi karena kejadian yang tak terduga yaitu wabah.
Monopoli Di Negara Ekstraktif
Monopoli di sistem ekstraktif dan inklusif memberikan hasil yang berbeda. Contohnya Miliarder bisnis telekomunikasi asal meksiko Carlos Slim mendapatkan kekayaan berlimpah dari sistem monopoli ekstraktif di negaranya.

Carlos Slim mampu memenangkan persaingan pasar bukan karena inovasi, tapi karena berhasil memenangkan komunikasi politik untuk mendukung bisnisnya.
Dengan begitu keuntungan yang didapatkan Carlos hanya dinikmati oleh dia dan kelompoknya, sementara banyak masyarakat yang dirugikan.
Hal yang berbeda dilakukan oleh Bill Gates. Dia mendapatkan kekayaannya dengan cara menciptakan produk inovasi yang lebih baik dari kompetitornya.
Dengan begitu kekayaan yang dinikmati oleh Bill bukan hanya berguna bagi dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi masyarakat.
Contoh lain dari monopoli pasar adalah pada tahun 2003. Pemimpin di Cina pada saat itu menangkap Dai Guofang dan memenjarakan dia selama 5 tahun di penjara.
Yang menyebabkan Ia tertangkap adalah Guofang coba mendirikan pabrik baja murah, yang menjadi pesaing partai utama pemerintah saat itu.
Monopoli pada sistem negara ekstraktif sangat merugikan banyak orang, mengurangi inovasi, dan menghancurkan jiwa kompetitif.
Sistem politik sebuah negara akan menentukan apakah negara tersebut makmur atau tidak. Sebuah negara akan makmur apabila mementingkan kepentingan orang banyak daripada kepentingan segelintir orang.
0 Comments