Pernahkan kalian berpikir, kenapa hidup begitu sulit ? Seakan, kita dituntut untuk bekerja sangat keras melebihi batas kemampuan kita.Sistem kehidupan seakan mengarahkan kita, mendikte setiap kehidupan kita.

Mulai dari playgroup,TK,SD,SMP,SMA,sampai Universitas. Kita dididik untuk seragam,sekurikulum,seperti memprogram kumpulan robot. Tidak seperti manusia dengan bakat dan minat yang berbeda-beda. Alhasil, banyak dari kita mengeluh,frustrasi,bahkan stress. Dan mulai bertanya, apakah kehidupan memang sesulit ini ? Ataukah system yang membuatnya sulit ?

Untuk menjawab itu Jon Jandai sudah merangkumnya dengan lengkap,disertai pengalaman pribadinya dalam menghadapi dan merenungkan system kehidupan yang ada. Jon adalah seorang Petani dari Thailand. Pada tahun 2003 Ia mendirikan Pun Pun Center,yang berfungsi sebagai pusat kehidupan berkelanjutan dan produksi benih, yang bertujuan untuk membawa benih asli dan langka kembali digunakan.

Secara teratur, Jon menyelenggarakan pelatihan tentang teknik sederhana untuk hidup lebih berkelanjutan. Di luar Pun Pun, Jon adalah pemimpin dalam membawa gerakan bangunan alami ke Thailand, tampil sebagai juru bicara pada puluhan publikasi dan program TV selama 10 tahun terakhir. Ia terus berupaya mencari cara yang lebih mudah bagi orang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Pada tahun 2011 Ia berbicara di TEDX untuk menyampaikan ide gilanya tentang bagaimana seharusnya hidup lebih mudah dari apa yang selama ini kita bayangkan.

Jon jandai pendiri pun pun center

“Kau miskin ! Kau harus bekerja keras untuk sukses !” Itu adalah kalimat yang sering Jon dengar waktu kecil.Jon pun memutuskan untuk menuju ke Bangkok,Ibu kota Thailand .Sesampainya di sana Ia sadar itu bukan tempat yang menyenangkan.

Ia bekerja keras selama 8 jam,dan hanya makan 1 mangkuk mie atau nasi goreng setiap hari.Jon coba belajar di Universitas untuk mencari jawaban tentang kesuksesan.tapi itu,semakin membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang salah.

Menurut Jon,setiap pelajaran yang ia terima di Kampus adalah tentang merusak alam.Semakin banyak gunung yag rusak,semakin banyak makan tidak sehat,dan semakin banyak polusi.

Jon pun merasa kecewa, kenapa ia harus ke Bangkok hanya untuk mempelajari system yang merusak alam. Ia kembali ke masa lalu,dimana ia masih kecil dan tinggal di sebuah pedesaan.Dimana orang-orang di desanya tidak bekerja sekeras itu,dan tetap bahagia.

Mereka hanya bekerja 2 jam sehari menggarap sawah,2 bulan dalam 1 tahun.Dan sisanya adalah waktu senggang.Ia membayangkan bagaimana orang-orang desa masih bisa menikmati tidur siang usai bekerja.

Pelajaran sekolah mengajari kita cara merusak alam

Orang-orang begitu banyak memiliki waktu sendiri,karena punya banyak waktu sendiri mereka punya waktu untuk memahami diri sendiri.Ketika mereka mampu memahami diri sendiri,mereka mampu mengerti apa yang mereka inginkan dalam hidup.

Mereka melihat banyak keindahan dalam hidupnya.Dan mengekspresikan keindahan itu pada ukiran gagang pisau,anyaman,atau kerajinan tangan lain.Yang sudah sangat sulit kita temui hari ini,karena semua dibuat dengan plastic dan mesin.

Jon merasa tidak bisa hidup di Bangkok,jadi Ia memutuskan untuk kembali ke dasa asalnya.Ia mulai bekerja selama 2 bulan/tahun dan menghasilkan 4 Ton beras dalam 1 tahun.Untuk memberi makan 6 orang cukup ½ Ton,sehingga masih menyisakan 5,5 Ton / tahun untuk dijual.

Ia juga memelihara ikan yang cukup untuk dimakan 6 orang, Ia mulai membuat kebun kecil pada lahan kurang dari ½ hektar.Ia memiliki sekitar lebih dari 30 jenis sayur yang berbeda.Ia menyisihkan waktu 15 menit/hari untuk mengurus kebunnya.

6 orang tidak bisa menghabiskan semua sayur itu.Jadi Jon punya surplus lagi untuk dijual ke pasar.Ia mulai berpikir bahwa ini mudah, kenapa ia harus ke Bangkok selama 7 tahun kalau hidup bisa semudah ini ?

Jon mulai berpikir bahwa Ia sebenarnya tidak perlu terpaku pada sistem, Ia bisa menciptakan sistem sendiri yang jauh lebih mudah.

Kemudian Ia mulai kembali berpikir bagaimana cara memiliki rumah yang bahkan orang berpendidikan dengan gaji tinggi butuh 30 tahun cicilan sampai akhirnya memiliki rumah.Apakah ada harapan untuk memiliki rumah untuk orang sepertinya ?

Tapi Jon mulai tergerak untuk membangun rumah sendiri,menyisikan 2 jam per hari mulai dari jam 5-7 pagi.Dan dalam 3 bulan Ia punya rumah yang bisa ditinggali.Sementara seseorang karyawan bergaji butuh 3 bulan untuk membangun rumah,tapi dengan hutang.

Yang harus dicicilnya selama 30 tahun.Jon pun bersyukur ia punya 29 tahun dan 9 bulan waktu bebas jika dibandingkan dengan karyawan bergaji tersebut.Jon merasa hidupnya sangat mudah.

Jon tidak pernah berpikir bahwa membangun rumah bisa semudah itu.Ia pun mulai ketagihan membangun rumah,setidaknya 1 rumah per tahun.Sekarang Jon tidak punya banyak uang,tetapi punya banyak rumah.Masalahnya saat ini,adalah memilih di rumah mana Ia harus tidur malam ini.Jadi merutnya membangun rumah bukanlah masalah,seorang anak 13 tahun pun bisa membangun rumah dengan sedikit pelatihan.

Hal selanjutnya adalah pakaian.Jon merasa dirinya miskin saat itu.Untuk membuat dirinya tampak lebih bagus, Dia mencoba berpakaian seperti orang lain, seperti bintang film.Tapi setelah ia melihat ke cermin semua tampak sama saja, baju dan celana jeans yang Ia beli tak banyak merubah penampilannya.

Jon merasa sia-sia membeli pakaian semahal itu. Dia mulai berpikir kenapa kita harus mengikuti tren ? Kalau kita mengikutinya kita tidak akan bisa mengejarnya.Jadi semenjak saat itu Jon tidak pernah membeli pakaian mahal lagi.

Menurutnya ini bukan sekedar tentang pakaian, tapi lebih dari itu. Dia belajar bahwa ketika akan membeli sesuatu harus karena benar-benar membutuhkannya.Jika membeli hanya karena menyukainya itu berarti karena emosi.

Lalu Jon juga membagikan pengalamannya ketika sakit. Jon berpikir bahwa ketika Ia sakit, itu adalah pengingat bahwa Ia telah melakukan sesuatu yang salah dalam hidup. Jadi yang Ia lakukan adalah kembali pada diri sendiri, dan mencari tahu apa yang salah.

Jon belajar bagaimana menggunakan apa yang ada di alam untuk menyambuhkan dirinya. Ia belajar bagaimana menggunakan air untuk menyembuhkan diri. Bagaimana menggunakan tanah dan apa yang ada di tanah untuk menyembuhkan diri.

Sejak saat itu Jon merasa hidup itu mudah. Ia tidak lagi khawatir pada apapun. Rasa takutnya berkurang dan hidupnya merasa bebas. Ia mulai teringat bagaimana suramnya masa lalunya di Bangkok, Ia hidup di kota besar tetapi dipenuhi rasa tertekan,khawatir, dan takut.

Sekarang di desa, Ia merasa bebas , dan merasa telah menemukan jati diri yang sesungguhnya. Saat itu Jon mulai mendirikan Pun Pun di Chiang Mai , Thailand. Sebuah organisasi nirlaba yang tugas utamanya adalah menyelamatkan benih .

Baginya benih adalah makanan,tidak ada benih tidak ada kehidupan,tidak ada kebebasan.Di Pun Pun Center orang-orang juga dapat belajar bagaimana menjalani hidup dengan lebih mudah.

Pun pun center pusat pembibitan Thailand

Di kehidupan setiap harinya, mereka belajar bagaimana membuat hidup lebih sulit. Di Pun Pun orang-orang dapat belajar bagaimana mereka dapat bertani sendiri,membuat makanan sendiri, membuat pakaian sendiri, membuat obat sendiri, bahkan sampai membuat rumah sendiri.

Hidup menjadi terasa lebih mudah. Karena kita lebih fokus pada diri kita dan pikiran kita, dan bagaimana alam dapat memenuhi semua kehidupan kita. Karena kebutuhan terpenuhi maka kita pun menjadi lebih bahagia. Tanpa harus menggunakan standar kebahagiaan orang lain, kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

Uang bukanlah tujuan utama

Kesimpulan yang Jon Jandai ambil adalah bahwa manusia sebenarnya hanya memiliki 4 kebutuhan dasar yaitu : makanan, pakaian, rumah dan obat-obatan. Dengan semua itu manusia sudah mencapai kebahagiaannya. Kita selama ini telah dibodohi, kita telah membuat sulit untuk memperoleh ke-4 kebutuhan dasar tersebut.Itu sungguh tidak masuk akal.

Burung membuat sarang dalam 1 atau 2 hari, tikus membuat lubang dalam 1 malam, tetapi manusia membutuhkan 30 tahun untuk mencicil rumah. Itu sungguh tidak masuk akal. Hidup normal di jaman sekarang, maka anda akan terlihat seperti orang tidak normal.

Tapi Jon Jandai tidak peduli, inilah hidupnya saat ini, semuanya terasa mudah, semua kebutuhannya terpenuhi, dan Ia merasa bahagia dengan hidupnya saat ini, terserah dengan apa yang orang pikirkan,Ia merasa cukup dengan semua yang Ia miliki sekarang.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *