Pada kesempatan kali ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana krisis 2008 bisa terjadi. Dan apa pelajaran dari krisis ekonomi 2008 yang bisa kita ambil.

Sebagian dari kalian mungkin tidak tahu, bahkan bertanya : “Emangnya ada krisis ekonomi ya tahun 2008 ?”

Ya, itu wajar saja karena memang krisis tersebut tidak berdampak terlalu besar untuk beberapa negara dalam hal ini Cina,India, dan Indonesia.

Pelajaran Dari Krisis : Banyak Yang Belum Tahu


Pemerintah mengklaim, bisa menyelamatkan Indonesia dari krisis. Tapi menurut saya Indonesia selamat karena syukur saja tidak banyak orang yang menghimpun dana mereka di saham.

Cuplikan film the big short

Istilahnya, banyak orang yang belum “melek saham” saat itu. Karena ya krisis 2008 memang paling parah menghantam pasar saham.

Kalau kita lihat grafik IHSG tahun 2008 kita akan sadar bahwa pada tahun itu memang ada krisis saham, yang paling parah memang di Amerika Serikat.

Krisis ekonomi ini menjadi pelajaran penting bagi Amerika Serikat

Krisis 2008 sebenarnya adalah krisis internal yang terjadi di pasar keuangan Amerika, tapi karena Amerika adalah negara Adidaya, dan dollar masih dipakai seluruh dunia sampai sekarang, krisis yang terjadi di Amerika juga akan menjalar hampir ke seluruh dunia.


Apa yang sebenarnya menyebabkan krisis ekonomi 2008 ?


Krisis ekonomi 2008 merupakah krisis ekonomi yang cukup parah terjadi terutama di negeri Paman Sam.

Beberapa ahli sebelum krisis ini meledak, memprediksi bahwa sesuatu yang parah akan terjadi sama seperti krisis ekonomi tahun 1830-an.

Tapi nyatanya, Amerika bisa selamat,dan mengambil pelajaran dari semua ini, semua negara lain selamat,dan bahkan negara Indonesia tak terlalu merasakan dampaknya.

Jejak sejarah yang tertinggal hanyalah grafik harga saham tahun 2008 yang hampir seluruh negara pasti mengalami penurunan.

Banyak pelajaran dari krisis 2008. Termasuk diantaranya agar tidak terulah lagi kita perlu mengetahui apa penyebab utama krisis ini.


Pelajaran Dari Krisis : Gagal Bayar Cicilan

Semuanya berawal dari hipotek. Kalau anda sering main monopoli harusnya tahu. Hipotek adalah surat jaminan pemberi hutang untuk hutang yang diberikan.

Misalkan, ada seseorang yang mau membeli rumah. Dia meminjam ratusan ribu dollar kepada Bank, sebagai imbalan karena sudah meminjamkan uang, Bank akan mendapatkan kertas yang disebut “Hipotek”.


Dan setiap bulan pemilik rumah harus membayar cicilannya kepada siapapun yang memegang surat hipotek tersebut.

Ketika terjadi gagal bayar, maka “nasib apes” bagi pemegang hipotek terakhir. Biasanya aset dari hipotek tersebut akan dilelang, dan hasilnya akan dibagikan rata kepada seluruh pemegang hipotek.


Tapi seringkali hasil penjualan tersebut tidak sebesar biaya saat membeli hipotek tersebut dari Bank.

Saya bilang seperti ini karena saat itu yang terjadi adalah Bank selalu menjual hipotek yang ia dapatkan kepada pihak ketiga.

Pelajaran dari krisis 2008 ini adalah, salah satunya Bank tidak boleh memberikan pinjaman terlalu mudah kepada seseorang. Dimana seseorang itu belum jelas kemampuannya


Syarat Kredit Yang Dipermudah

Cuplikan film the big short

Seharusnya sulit untuk mendapatkan hipotek jika orang yang berhutang tidak memenuhi syarat untuk dapat membayar kembali.

Seperti tidak memiliki bisnis atau pekerjaan yang stabil. Karena pemberi pinjaman tidak suka dengan resiko gagal bayar.


Tapi semuanya berubah sejak tahun 2000-an. Cerita tentang terjadinya krisis 2008 ini memang rumit dan panjang. Tapi saya coba meringkasnya menjadi sederhana.

Mulai tahun 2000-an ke atas banyak investor dari Amerika sendiri maupun dari mancanegara yang mencari investasi dengan resiko rendah tapi return yang tinggi.

Investor Berbondong-bondong Membeli


Mereka pun menginvestasikan uang mereka pada real-estate. Ide nya adalah mendapatkan return dari bunga yang dibayarkan peminjam kepada pemilik hipotek.

Tapi pada saat itu, para Investor tidak langsung membeli hipotek.

Mereka membeli suatu produk investasi yang disebut “Sekuritas berbasis mortgage” atau dalam bahasa Inggris disebut “Subprime Mortgage”.

Maka dari itu krisis 2008 sering disebut dengan istilah krisis “Subprime Mortgage”.


Singkatnya, Subprime Mortgage adalah saham/produk sekuritas yang di dalamnya berisi kumpulan hipotek-hipotek. Ini terlihat aman karena ada lembaga keuangan besar yang menjamin produk investasi itu.


Awalnya subprime mortgage menghasilkan return yang lebih tinggi dibanding instrumen investasi lain. Ini menarik banyak investor untuk membeli, dan harga rumah pun semakin meningkat.

Tampaknya banyak investor tidak mengambil pelajaran dari krisis masa lalu yang bahkan membuat Ilmuan sekelas Issac Newton depresi karena kehilangan modalnya di Pasar Modal.


Pelajaran Dari Krisis 2008 : Keserakahan Membawa Maut

Ilustrasi krisis subprime morgage 2008


Jadi di pikiran serakah para investor tersebut hanya berpikir, bahwa seburuk-buruknya kemungkinan yang terjadi adalah peminjam gagal bayar dan aset rumah bisa dijual untuk mengganti kerugian tersebut.


Ini menjadi semakin populer ketiga lembaga pemeringkat kredit memberikan review “AAA” kepada produk semacam ini. Investor pun menjadi semakin beringas, popularitas produk ini semakin melesat.


Tanpa ada yang berpikir bahwa semenjak 2000-an ke atas, syarat untuk mencetak hipotek tidak seketat dulu. Setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari krisis ini.

Orang bisa dengan mudahnya membeli rumah tanpa memiliki kemampuan untuk membayar cicilannya.


Bank-bank sering memberikan tarif hipotek yang konyol yang hampu dibayar pada awalnya saja.

Tanpa memperhitungkan apakah peminjam mampu membayar cicilan hipotek dalam jangka panjang.


Pondasi Yang Rapuh Dari Awal


Ibaratnya orang-orang sibuk meninggikan bangunan tanpa melihat betapa rapuhnya pondasi yang mereka bangun.Beberapa ahli mulai bersuara bahwa ini bukan investasi yang aman.

Tapi popularitas subprime mortgage tidak bisa lagi dibendung.Investor masih beramai-ramai membelinya.

Karena semua histeria dan kehebohan ini semua orang senang dan tidak memperdulikan peringatan badai dari beberapa ahli keuangan.

Sebagaimana hukum ekonomi, karena permintaan pada rumah meningkat, maka harga rumah di Amerika pun semakin meningkat pesat.


Sekali lagi, yang Bank dan investor pikirkan sebagai resiko tertinggi adalah gagal bayar dari peminjam.

Kalau itu terjadi mereka tinggal jual aset rumah, dan uang mereka pun kembali, karena harga rumah sangat mahal saat itu.


Teori Gelembung Pasar


Sekarang kita akan masuk ke teori gelembung pasar. Anda tahu gelembung kan ?

Ini adalah teori yang diambil dari pelajaran krisis masa lalu. Dan anehnya biasanya krisis akan selalu berulang

Itu adalah sesuatu yang sangat rentan dan bisa pecah sewaktu-waktu. Itulah gambaran ekonomi amerika saat itu.

Gelembung terjadi ketika kenaikan harga secara cepat disebabkan oleh keputusan yang tidak rasional. Dan ketika orang-orang sadar bahwa keputusannya tidak rasional, saat itulah gelembung akan pecah.


Saat gelembung pecah adalah ketika orang-orang gagal bayar hipotek mereka,maka banyak aset rumah yang dijual, karena harga rumah saat itu sangat tinggi, tidak orang yang mampu membelinya.

Di sisi lain banyak investor mengambil pelajaran dari krisis masa lalu. Yaitu ketika saham jatuh dan semua orang panik banyak Investor akan membeli di saat banyak orang panik menjual.


Efek Domino


Harga rumah pun mulai jatuh, ketika harga rumah jatuh, hipotek sampah yang dibungkus dengan kemasan menarik itu pun juga ikut jatuh.

Ketika harga produk investasi “Subprime Mortgage” jatuh para investor mulai panik dan menjual produknya. Harga produk investasi itupun semakin hancur.


Ketika banyak orang-orang kesulitan ekonomi, dan melihat investasinya hancur, orang-orang mulai panik dan menjual hampir seluruh sahamnya.

Saham gabungan amerika “Dow Jones” pun mulai hancur turun 60% lebih.


Beberapa lembaga keuangan besar seperti Lehman Brother’s mulai menyatakan kebangkrutan.

Lehman Brothers Bangkrut tahun 2008

Beberapa mengalami merger dengan perusahaan lain, dan beberapa mengemis dana talangan dari pemerintah.

Yang Dilakukan Pemerintah


Lalu apa yang dilakukan Pemerintah Amerika selanjutnya, hingga bisa keluar dari krisis ini ?

Pemerintah Amerika benar-benar mengambil pelajaran berharga dari krisis 2008 ini. Sekumpulan aturan baru mulai disiapkan.

The Fed si lembaga swasta yang memiliki kewenangan Dewa untuk mencetak uang pun mulai turun tangan dan menawarkan bantuan pinjaman kepada Bank-bank.

Pemerintah juga mulai melakukan program bantuan kepada pinjaman yang bermasalah atau biasa disebut “Bailout”.


Sekitar $750 miliar ditambah lagi $250 miliar habis untuk membantu dan menyelamatkan Bank-bank yang sekarat hampir mati.

Regulasi baru tentang perkreditan pun mulai diperketan. Pada 2009 Pemerintah Amerika juga banyak memberikan stimulus seperti keringanan pajak,untuk memacu daya beli.

Sektor produksi dan lapangan kerja juga mulai diperhatikan lebih. Pada tahun 2010 Kongres Amerika juga mengesahkan UU baru untuk meningkatkan trasparansi dan mencegah Bank mengambil resiko yang terlalu tinggi.


Pelajaran Dari Krisis 2008 Yang Sangat Penting


Jadi apa yang kita pelajaran dari krisis ekonomi 2008 terpenting saat ini ?
Salah satu faktor utama yang menyebabkan krisis ini adalah insentif yang merugikan.

Meme tentang krisis ekonomi 2008

Insentif diberikan kepada mereka yang berhasil mendatangkan penghutang sebanyak-banyaknya. Syarat untuk berhutang pun semakin dipermudah.

Akhirnya orang yang sudah jelas tidak mampu bayar pun dengan mudah mendapatkan hutang. Akhirnya terjadilah gagal bayar secara masal.


Pelajaran dari krisis ekonomi 2008 kedua adalah dari sistem yang ada.

Pemerintah di negara manapun terlalu menganak-emaskan Bank-bank, ketika bank bankrut yang pertama kali memberi dana talangan adalah Pemerintah.


Sehingga Bank-bank mulai berfikir untuk mengambil resiko setinggi apapun demi kemajuan bisnisnya. Toh nanti kalau rugi Pemerintah yang akan talangin. Terdengar konyol tapi itulah faktanya. 

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari krisis ekonomi 2008 ini.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *