Jika ditanya apakah mau bahagia ? Semua orang pasti menjawab iya.
Ya, kita mau. Dan motivator-motivator dengan mulut manisnya selalu berkata bahwa bahagia itu adalah pilihan.
Bahagia dapat dimunculkan begitu saja tanpa butuh alasan.
Menurut saya bahagia adalah reaksi. Sedih atau bahagia terjadi karena kita bereaksi pada suatu hal.
Tentu saja, Kita tidak bisa ujug-ujug memunculkan rasa sedih atau bahagia, kalaupun bisa itu hanyalah cara manipulatif,dengan membayangkan kejadian masa lalu yang bisa mentrigger kebahagiaan kita.

Dan cara itu menurut saya adalah omong kosong, kita tidak bisa mengharapkan anak-anak kelaparan di Afrika untuk bahagia dengan terapi senyum.Atau anak-anak korban perang di Palestina bahagia.
Padahal kita tahu, kebahagian tercipta karena secara fisika dan biologi tubuh kita menerima rangsangan positif, yaitu tidak melukai atau menyayat sel-sel dalam tubuh kita. Ini sangat mudah dipahami.
Lalu apa yang membuat kita bahagia dalam hidup ?

Apakah ada penelitian tentang kebahagiaan manusia yang membahas hal tersebut ?
Jika kita tahu hal tersebut, tentu kita akan menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Survei terbaru mengatakan, dengan koresponden anak-anak muda, ditanya apa hal yang menurut mereka paling penting dalam hidup ?
Lebih dari 80% dari mereka menjawab tujuan terpenting hidup mereka adalah menjadi kaya.Dan sebagian besar lainnya menjawab menjadi terkenal.
Orang-orang selalu bilang bahwa kita harus bekerja keras dalam hidup untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Seakan, kita diwajibkan untuk menempuh jalan sulit sebelum memperoleh kebahagiaan.Para kakek-nenek dan orangtua kitalah mungkin orang yang paling banyak memberikan pelajaran hidup.
Biasanya, mereka menceritakan pengalaman masa lalunya. Kita tertarik dan setuju karena memang belum pernah mengalaminya.
Tapi sebenarnya, itu bukan cara yang efektif. Karena terkadang memori otak manusia bisa menjadi kreatif, dramatisasi, maupun unsur ego bisa masuk ke dalamnya.
Jadi terkadang, hanya mengandalkan memori manusia bukanlah cara yang cukup akurat.
Ternyata ada penelitian selama 75 tahun yang dilakukan. Yaitu penelitian tentang kebahagiaan, untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat manusia bahagia.
Penelitian Terbesar Tentang Penyeban Kebahagiaan
Lalu pertanyaanya, apakah ada sebuah penelitian yang mempelajari kehidupan orang sejak remaja hingga tua, untuk mencari apa hal yang sebenarnya paling menimbulkan kebahagiaan dalam hidup.

Jawabannya ada, Studi di Harvard tentang perkembangan orang dewasa mungkin adalah studi yang terlama tentang kehidupan manusia yang pernah dilakukan.
Itu sekaligus penelitian tentang kebahagiaan manusia terlama yang pernah dilakukan.
Selama 75 tahun, peneliti memonitor kehidupan 724 pria.Setiap tahunnya peneliti menanyakan tentang pekerjaan, rumah tangga , dan kesehatan.
Penelitian seperti ini sangat langka, proyek serupa biasanya bubar setelah 10 tahun berjalan.
Studi ini dilakukan lintas generasi, setelah generasi pertama selesai,generasi selanjutnya melanjutkan. Tanpa komitmen seperti itu mustahil bisa menyelesaikan studi dengan lama waktu 75 tahun ini.
Direktur ke-4 dari studi ini, bernama Robert Waldinger menjelaskan, sekitar 60 dari 724 pria yang dimonitor selama 75 tahun masih hidup sampai sekarang.
Dan saat ini, para peneliti sedang mempelajari lebih dari 2000 anak-anak mereka.
Penelitian dimulai pada tahun 1938 , dilakukan kepada 2 kelompok pria. Kelompok pertama adalah mereka mahasiswa baru di Harvard dan lulus kuliah saat PD 2 masih berlangsung.
Bahkan, Sebagian dari mereka ikut pergi berperang.
Dan kelompok kedua yang diteliti adalah kumpulan anak laki-laki dari kawasan paling miskin di Boston pada tahun 1930 an.
Penelitian dilakukan dengan cara mewawancari mereka satu-persatu.
(Meneliti 724 pria selama 75 tahun)

Penelitian Dilakukan Mulai Dari Remaja Sampai Kakek-Kakek.
Ketika para remaja ini tumbuh dewasa, mereka memiliki berbagai macam profesi.Ada yang menjadi buruh, pengacara, tukang bangunan, sampai dokter.
Yang menarik, salah satu orang ada yang menjadi Presiden Amerika Serikat.
Ada yang menjadi pecandu miras, beberapa ada yang menderita schizophrenia.Karena peneliti mewawancari setiap tahunnya,beberapa terlihat menanjaki strata sosial dari bawah ke atas, beberapa ada yang sebaliknya.
Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini juga tidak sembarang wawancara.Para peneliti mewawancarai mereka di ruang tamu mereka.
Tidak hanya itu. Bahkan, Memeriksa rekam medis dari dokter,memindai darah dan otak mereka.Bahkan merekam dialog mereka dengan istri tentang kekhawatiran terbesar mereka.
Jadi apa pelajaran terpenting dari penelitian selama 75 tahun ini ?
Ternyata hanya satu kalimat : Hubungan yang baik membuat kita semakin bahagia dan sehat, titik.
Setidaknya, ada 3 pelajaran penting tentang hubungan yang dapat kita ambil dari Penelitian tentang kebahagiaan manusia ini.
Pertama bahwa, hubungan sosial sangat baik bagi kita dan kesepian bisa membunuh.
Kedua, bukan seberapa banyak teman yang anda miliki, atau apakah hubungan anda mengikat, tapi kualitas hubunganlah yang menentukan.
Lalu pelajaran ketiga adalah, hubungan yang baik tidak hanya melindungi tubuh,tetapi juga otak kita.
Kita bahas dulu yang pertama, bahwa ternyata orang yang lebih terhubung secara sosial lebih bahagia,lebih sehat, dan hidup lebih lama.
Kalau kita hubungkan pada ilmu agama si Nabi Muhammad pernah bilang bahwa Silaturahim memperpanjang usia, dan secara penelitian itu memang dibuktikan.
Lalu, yang kedua tentang kualitas hubungan. Ternyata hidup di tengah konflik lebih buruk bagi kesehatan.
Pernikahan yang banyak konflik misalnya, sangat buruk bagi kesehatan,bahkan lebih buruk dari perceraian.
Peneliti mengikuti kehidupan partisipan sampai usia 80 an. Dari situ peneliti bahkan bisa memprediksi dari usia 50 an, mana diantara mereka yang akan lebih bahagia saat usia 80 an.
Hubungan Yang Baik Membuat Kita Sehat Dan Bahagia
Kesimpulannya, adalah orang yang paling puas dalam hubungannya di usia 50 an adalah mereka yang paling sehat dan bahagia di usia 80 an.

Salah satu partisipan yang paling bahagia mengatakan saat mereka sakit di usia 80 an, mereka tetap merasa bahagia, karena hubungan yang dekat entah dengan pasangan , keluarga,anak atau cucu.
Namun, partisipan lain yang paling tidak bahagia saat usia 80 dikarenakan hubungan yan tidak baik diusia 50an.Saat jatuh sakit mereka merasa lebih menderita,karena rasa parahnya ditambah dengan sakit secara emosional yaitu kesepian.
Lalu yang ketiga, ternyata orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan partnernya dan merasa bisa mengandalkan partnernya dalam kondisi tertentu, memiliki ingatan yang lebih tajam.
Sebalikya dalam penelitian tentang kebahagiaan ini , orang yang merasa tidak bisa mengandalkan partnernya memiliki ingatan yang lebih buruk.Hubungan yang baik tidak selalu mulus, beberapa pasangan bahkan terus cekcok setiap hari.
Tapi selama mereka merasa bisa mengandalkan partnernya dalam kondisi tertentu,maka itu adalah hubungan yang baik.Cek cok dan pertengkaran itu tidak akan berpengaruh pada kualitas ingatan mereka.
Jadi ucapan tentang silaturahim memperpanjang umur ternyata sudah terbukti secara ilmiah.Terutama dalam penelitian tentang kebahagiaan ini.
Tapi sekali lagi, yang tepenting bukanlah sebarapa banyak teman yang dimiliki, tapi bagaimana kualitas dari hubungan tersebut.
Tak Perlu Mewah , Hal Sederhana Cukup Membuat Kita Bahagia
Partisipan yang paling bahagia selama penelitian 75 tahun tentang kebahagiaan ini adalah mereka yang berusaha merubah rekan kerja mereka menjadi teman bermain, atau merubah teman mereka sekaligus rekan kerja.
Mereka yang menyandarkan diri pada hubungan dengan teman,keluarga, atau komunitas, adalah mereka yang paling sehat dan bahagia pada usia 80 an.
Bagaimana dengan anda ?
Mungkin hal sederhana seperti pergi kencan di malam hari, menghubungi kerabat yang sudah lama tidak dihubungi, atau melakukan suatu hal bersama-sama.
Akan membuat anda lebih sehat dan bahagia ke depannya.
Terakhir mengutip kata-kata Mark Twain,
“Tak ada waktu, hidup terlalu singkat,untuk pertengkaran, kata maaf,dendam, perhitungan.Hanya ada waktu untuk mencintai,namun itu pun sangat singkat.”
0 Comments